Minggu, 22 Mei 2011

kan kutaklukan..

sejak aku masih kecil aku paling takut sama pelajaran ipa terutama fisika.. nilai uasbn sd-ku yang paling jelek ipanya, waktu smp nilai ipaku ga pernah maksimal dan bahkan sering di bawah kkm.. beberapa kali sempat menyerah dan ga mau ngurusin nilai fisika lagi.. tapi kalau dipikir-pikir aku ini bodoh banget kalau membiarkan nilaiku tetap jelek.. apalagi dua minggu lagi aku harus dapat menaklukan si fisika yang menakutkan itu karena akan ujian kenaikan kelas..
heran rasanya melihat beberapa teman mahir mengutak-utik rumus fisika.. ulfah bilang, kalu fisika itu bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami.. kuharap aku bisa memahaminya dan menaklukannya dalam kurun waktu dua minggu..

Sabtu, 21 Mei 2011

pelajaran hari ini..

Hari ini banyak pelajaran yang kudapat. Tadi pagi aku terlambat ke sekolah. Kena marah ayah padahal yang bikin terlambat ayah. Trus kekunci di depan gerbang sekolah. Aku hanya bisa mendesah menyadari keterlambatanku yang sudah empat kali. Untuk ketiga kali kemarin orangtuaku harus dipanggil dan sekarang tentu juga akan dipanggil. Berbagai kata kurangkai untuk meloloskanku agar orangtuaku tak dipanggil ke sekolah. Aku takut jika orangtuaku dipanggil ke sekolah maka aku akan dipindah ke sekolah yang lain. 
Tak pernah kuduga sebelumnya masalah keterlambatanku harus dibawa ke kepala sekolah. Pak kepala menasihatiku panjang lebar hingga membuatku tak lagi dapat bersuara. Jam pertama dan keduakupun melayang karena ini semua, padahal ini adalah jam batikku yang sangat penting. Mau tak mau aku harus melembur batik nanti siang sedangkan aku ada jadwal extra jurnalistik.
Sampai di kelas entah mengapa aku tak dapat memendam rasa sedihku. Ini kali pertamaku menangis di kelas delapan. Semua teman-temanku yang tak pernah melihatku menangis lantas menaruh perhatian besar padaku. Berbagai cara mereka lakukan untuk membuatku tersenyum.
Siangnya aku berniat untuk meminta ijin kepada guru pengampu extra jurnalistik agar diijinkan melembur batik. Namun aku justru kena marah. Akhirnya batikku yang kukorbankan. Meski hatiku kembali sakit, namun aku berusaha untuk mensyukuri semua ini setelah mendengar salah satu cerita temanku. Beberapa bulan lamanya aku mengenalnya, namun baru saat ini aku menyadari betapa hebatnya dia. Dia jago fisika. Kalu dibilang anak paling pintar, kayaknya nggak. Tapi dia tekun dan selalu bersyukur. Hingga akhirnya keinginannyapun terwujud.
Setelah usai jurnalistik, Erisa memberitahuku bahwa yang melemburkan batikku adalah Ruri dan Elida. Aku terkejut melihat empati mereka yang begitu besar. Entah apa yang dapat kulakukan untuk membalas semua kebaikan mereka hari ini. Mereka adalah temanku yang setia, yang empati, yang sabar, dan penuh semangat.
Terimakasih untuk seluruh pelajaran yang telah kalian berikan teman-temanku, TraSaDA..

aku mau belajar...

selain penikmat musik, aku juga pecinta fotografi.. sejak dulu ga pernah punya skill, sampai sekarangpun ga punya.. tapi aku masih ngotot belajar.. ga pernah ada fasilitas berlebih karena uang tak pernah berlebih.. tapi tak apalah.. suatu saat pasti akan terwujud.. Allah tahu apa yang aku inginkan...







Jumat, 20 Mei 2011

Hari Kebangkitan

selamat hari kebangkitan nasional, Indonesia-ku...
kupersembahkan tiga karyaku untukmu..!!!
eh, kamu, kamu, kamu..!!! jangan ribut terus.. kongres kok malah adu mulut.. ini hari kebangkitan tau..!!!
kamu juga, ngapain hari gini masih nyogok sana, nyogok sini.. kurang kerjaan..!!!
kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bersatu.. memberikan yang terbaik untuk negeri ini.. bukannya menodai negeri yang telah penuh noda ini...!!

Kembali


Aku mendesah pada masa sepi
Penuh bangkai bertebaran,
dengan sejuta pedang yang menancap pada hatiku yang lemah

Ketika guncangan datang tuk hancurkan mimpiku
Merpati putih yang menghampiri tak lagi berarti
Hanya air tanpa nama yang mengalir,
mengukir sebuah sungai lumpur di pipiku
Aku tak berani bercermin
Mataku tak sanggup menyisir lautan kehidupan

Hingga pada suatu ketika
Malaikat datang meluncur di atas pelangi
Mendudukkanku pada kursi rapuh
Namun jauh lebih kuat dari sebelumnya

Mengapa kini kau mati ?
Mengapa kau memenjarakan semua asamu
Bukankah kau ksatria penantang ular ?
Mengapa tak kau ijinkan keberanian merasuk di tubuhmu ?
Mengapa kau sia – siakan titipan – Nya ?
Oh.. Kau begitu bodoh !
Kau nampak putih hina !

Aku menjerit !
Membuang segala darah kotor,
menekan kebosanan,
mengubur semua rasa sakit,
dan meloncat pada esok hari penuh embun yang menetes
mendinginkan hati dan jiwa

Aku tahu,
Kecewa tak akan membuatku menjadi pemenang
Marah tak akan membuatku menjadi yang terhormat
Lelah tak akan membuatku menjadi yang dikasihi

Kini kunikmati nyanyian merdu
Berhias tawa, dengan pancaran terang dari kedua bola mataku
Aku tak lagi menjadi benalu
Aku kembali hidup
Aku berselimut kobaran api
Aku tak takut akan hentakkan raksasa,
yang dapat membelah tanah di mana aku berdiri

Aku bahagia, sungguh bahagia !
Karena aku telah berani melawan petir ataupun mentari
Aku tak lagi peduli seberapa dalam luka yang tergores di hatiku
Karena aku hidup, bukan untuk mati
Aku hidup, untuk hidup selama – lamanya 

Langkah Tegap


Nada – nada dalam tubuh mengisyaratkan
Sebuah cinta, sebuah kebahagiaan
Bila kau inginkan bahagia,
Maka sentuhlah kebahagiaan itu dengan hatimu

Biar mereka berkata apa
Nyanyian katak, ataupun seruan setan
Jangan jatuhkan bintangmu ke dalamnya
Jangan biarkan bintangmu redup karnanya

Mentari bersinar tuk keringkan lukamu
Kau mampu untuk melangkah ke depan
Karena kau merah, bukan putih
Karena kau ombak
Yang akan slalu mengulangi segala sesuatunya
Hingga asamu dalam pelukan

Kau mampu tuk lemparkan senyum kepada mereka
Kau mampu tuk lewati waktu
Menanamkan beribu bunga mawar tanpa duri
Memupuk sebuah keberanian
Dan berteriaklah,
Aku pecundang !!!!
Apa bila tak mampu melawan aral

Bila kau mulai tersandung,
Jangan takut atau bingung
Genggam tanganku lebih erat
Dan terbanglah ke langit ke tujuh bersamaku
Mengumpulkan segenap api
Membelah langit yang berlapis
Menghancurkan gunung berapi
Merampas sebuah ketidak adilan
Dan membawa pulang sebuah kemenangan sejati

20 Mei, Kebangkitan Nasional

BANGKITLAH NEGERIKU! BANGKITLAH INDONESIAKU!


Kebangkitan adalah kata penuh makna. Di mana di dalamnya mengandung arti perubahan, perjuangan, dan keberanian. Pertama, kebangkitan adalah perubahan. Perubahan ke arah positif, perubahan menuju kejayaan, dan perubahan untuk menjadi yang lebih baik dan unggul. Kedua, kebangkitan adalah perjuangan. Perjuangan untuk melawan kesalahan, perjuangan untuk memperebutkan hak, dan perjuangan untuk memakmurkan diri. Terakhir, kebangkitan adalah keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menantang rasa takut, dan keberanian untuk menanamkan sebuah prinsip.

Sudah 103 tahun kebangkitan nasional. Sudah 103 tahun harapan-harapan dijunjung tinggi. Namun hingga hari ini, harapan-harapan itu tetap menjadi harapan. Tak nampak sebuah kebangkitan di bumi pertiwi ini.

Tiga belas tahun lalu, ketika masa reformasi lahir, harapan baru muncul. Akan tetapi hukum yang diharapkan menjadi panglima berbuah sebuah panglima abadi, keraguan ! Tanpa kita sadari, Sumber Daya Alam (SDA) melimpah yang kita miliki di seluruh penjuru negeri, kini sebagian besar telah dimiliki pihak asing. Sedangkan yang tersisa justru disalah gunakan . Apakah pantas apabila negeri ini disebut telah bangkit sedangkan korupsi merajalela di mana-mana? Tak malukah kita apabila kemakmuran hanya keluar dari mulut tanpa ada hasil yang konkrit? Sampai kapankah kita harus menunggu negeri ini sadar akan perlunya sebuah kebangkitan?

Tak perlu menunggu 10 tahun ataupun 15 tahun yang akan datang untuk bangkit. Karena kebangkitan tak dapat diulur dan ditunggu. Kebangkitan itu perlu untuk dijemput. Tanamkanlah sebuah perubahan, sebuah perjuangan, dan sebuah keberanian. Kita bangkit mulai detik ini, hari ini, saat ini. Kita jemput impian kita menjadi negeri yang makmur, adil, dan damai. Bangkitlah negeriku! Bangkitlah Indonesiaku!